Di Negeri yang baru saja terguncang oleh
pemilihan para pemimpin ini, selalu ada berita menarik, mengelitik dan
sekali-kali mengenaskan.
Hari ini hal yang menarik adalah persoalan
apakah seorang tanpa ijasah boleh menjadi pimpinan. Untuk segelintir orang
Gelar sarjana menjadi begitu pentingnya, sehingga mereka lupa kalau gelar itu
hanya untuk beberapa pelajaran yang diikutinya. Gelar itu hanya se-per-sekian
dari seluruh pengetahuan di dunia. Sehingga kepandaian seseorang selalu dinilai
dengan apa yang tertulis di selembar kertas nilai.
Kadang kita lupa, bahwa pendidikan formal
itu untuk sebagian orang adalah hal mewah, mahal untuk mendapatkannya. Dan ada
sekelompok orang yang merasa pendidikan formal itu membunuh kebebasannya
berkarya, memberi batasan untuk ide-ide cemerlangnya. Dan banyak pula yang
menjadi korban karena pendidikan itu memberikan kelas-kelas di dalam
masyarakat.
Inilah yang kurasakan sebagai suatu yang
mengenaskan.
Belajar dari almarhum ayahku yang tidak pernah mendapat pendidikan
formal di sekolah, karena kemiskinannya, dia harus belajar sendiri. Sering
kudengar dia bercerita, bagaimana dia duduk di bawah pohon bambu, belajar
menulis dan berhitung sendiri. Ketika kemiskinan dan keterbatasan menekan
kehidupannya, ayahku justru menjadi pejuang tegar meraih kehidupan yang layak
untuk keluarganya.
Nasehat ayahku,jadikan dunia ini ruang
kelas dan setiap orang bisa menjadi guru bagi kita. Dia belajar menjadi
kontraktor dari tukang batu, dia belajar berapa perbandingan semen dan pasir,
dia belajar membuat tempat tidur dari pembuatnya. Dia menghafal semua
Undang-Undang Agraria, dia mampu mewakili kaum minoritas menghadapi setiap
perkara di pengadilan. Tanpa gelar Sarjana, tanpa ijasah Sekolah Dasar, bagi
ayahku, yang terpenting adalah dia mandiri dan tidak menjadi beban bagi
orang-orang disekitarnya.
Jadi teringat seseorang yang mewawancariku
mengenai analisa tulisan tangan dan tanda tangan. Seusai wawancara dia
bertanya, “Mbak, boleh saya tulis
kalau mbak seorang ahli?” Terpaksa aku menjawab,
“Jangan mas, aku tidak punya ijasahnya tidak
punya pendidikan formalnya” Dia menjawab, “ Sayang ya mbak, padahal menurut saya mbak itu sudah bisa disebut
ahli “ Dengan bercanda aku menjawab, “ Aku ini ahli dari jalanan, kalau istilah asingnya Street smart.
Tapi yang penting aku tahu cara memakai ilmu itu, Mas. Tidak penting lagi
ijasahnya”
Seperti yang dikatakan oleh Bel Kaufman, “Education is not a product: mark, diploma, job, money in that order;
It is a process, a never ending one”
Lina Kartasasmita, Jakarta 29 October
2014 at 7.43PM
No comments:
Post a Comment