Wednesday, October 29, 2014

“Dunia ini kelasku dan kalianlah guru-guruku”

Di Negeri yang baru saja terguncang oleh pemilihan para pemimpin ini, selalu ada berita menarik, mengelitik dan sekali-kali mengenaskan.

Hari ini hal yang menarik adalah persoalan apakah seorang tanpa ijasah boleh menjadi pimpinan. Untuk segelintir orang Gelar sarjana menjadi begitu pentingnya, sehingga mereka lupa kalau gelar itu hanya untuk beberapa pelajaran yang diikutinya. Gelar itu hanya se-per-sekian dari seluruh pengetahuan di dunia. Sehingga kepandaian seseorang selalu dinilai dengan apa yang tertulis di selembar kertas nilai.

Kadang kita lupa, bahwa pendidikan formal itu untuk sebagian orang adalah hal mewah, mahal untuk mendapatkannya. Dan ada sekelompok orang yang merasa pendidikan formal itu membunuh kebebasannya berkarya, memberi batasan untuk ide-ide cemerlangnya. Dan banyak pula yang menjadi korban karena pendidikan itu memberikan kelas-kelas di dalam masyarakat.

Inilah yang kurasakan sebagai suatu yang mengenaskan. 

Belajar dari almarhum ayahku yang tidak pernah mendapat pendidikan formal di sekolah, karena kemiskinannya, dia harus belajar sendiri. Sering kudengar dia bercerita, bagaimana dia duduk di bawah pohon bambu, belajar menulis dan berhitung sendiri. Ketika kemiskinan dan keterbatasan menekan kehidupannya, ayahku justru menjadi pejuang tegar meraih kehidupan yang layak untuk keluarganya.

Nasehat ayahku,jadikan dunia ini ruang kelas dan setiap orang bisa menjadi guru bagi kita. Dia belajar menjadi kontraktor dari tukang batu, dia belajar berapa perbandingan semen dan pasir, dia belajar membuat tempat tidur dari pembuatnya. Dia menghafal semua Undang-Undang Agraria, dia mampu mewakili kaum minoritas menghadapi setiap perkara di pengadilan. Tanpa gelar Sarjana, tanpa ijasah Sekolah Dasar, bagi ayahku, yang terpenting adalah dia mandiri dan tidak menjadi beban bagi orang-orang disekitarnya.

Jadi teringat seseorang yang mewawancariku mengenai analisa tulisan tangan dan tanda tangan. Seusai wawancara dia bertanya, Mbak, boleh saya tulis kalau mbak seorang ahli? Terpaksa aku menjawab, Jangan mas, aku tidak punya ijasahnya tidak punya pendidikan formalnya Dia menjawab, Sayang ya mbak, padahal menurut saya mbak itu sudah bisa disebut ahli Dengan bercanda aku menjawab, Aku ini ahli dari jalanan, kalau istilah asingnya Street smart. Tapi yang penting aku tahu cara memakai ilmu itu, Mas. Tidak penting lagi ijasahnya

Seperti yang dikatakan oleh Bel Kaufman, Education is not a product: mark, diploma, job, money in that order; It is a process, a never ending one


Lina Kartasasmita, Jakarta 29 October 2014 at 7.43PM

No comments:

Post a Comment